Menciptakan Daya Magnetisme dalam Pengajaran Bahasa: Penerapan pada Teks Sastera

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Mengajar subjek Bahasa Melayu dengan bersumberkan bahan sastera memberi impak kepada sebilangan guru di sekolah. Melalui mengajar, seorang guru mengekspresikan keperibadiannya. Salah satu cara untuk merealisasikan integriti guru ialah dengan mempunyai ilmu dalam bidang sastera. Justeru, dalam konteks pedagogi, di samping ilmu pengetahuan, guru harus mencipta kredibiliti sebagai guru yang unggul bagi melunaskan pengajaran yang berkesan di bilik darjah. Maka, guru perlu mencipta daya magnetik sebagai satu langkah untuk menarik perhatian terhadap guru. Oleh itu, guru perlu memiliki “aura” supaya pelajar tertarik dan sanggup memberi tumpuan terhadap pengajaran yang sebenar. Bakat, perwatakan, penampilan, ilmu, keprofesionalan, kejatidirian, dan kebolehan mengurus merupakan indikator yang mampu menarik perhatian pelajar terhadap pengajaran guru berlandaskan teks sastera agar pengajaran bahasa lebih kukuh. Akhir sekali, daya magnetis yang mempunyai elemen kreatif dan inovatif, komunikatif, dan gerak badan perlu dipupuk dari semasa ke semasa.
KATA KUNCI: Bahasa Melayu, pengajaran bahasa, teks sastera, daya magnetik, para pelajar, dan profesionalisme guru.

ABSTRACT: Teaching the Malay language by using the literary materials still give some impact on the number of teachers in schools. By teaching, a teacher actualizes his/her character. One of how to realize the integrity of the teacher is to have knowledge in the literature. Thus, in the context of pedagogy, in addition to knowledge, the teacher should create credibility as a great teacher for effective teaching honor in the classroom. Therefore, teachers need to create a magnetic force as a way to draw attention to the teacher. Accordingly, teachers should have the “aura” so that students are interested and willing to focus on actual teaching. Talent, character, appearance, knowledge, professionalism, identity, and ability to manage self-powerness can be an indicator that can attract students to create teaching based on literary texts and yet that language teaching can be more effective. Finally, magnetic force that has creative and innovative elements, communicative, and body gesture should be developed from time to time.
KEY WORD: Malay language, teaching language, literature text, magnetic force, students, and teacher professionalism.

About the Author:

Dr. Naffi Mat ialah Pensyarah Kanan di Fakulti Bahasa dan Komunikasi UPSI (Universiti Pendidikan Sultan Idris), 35900 Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Bagi urusan sebarang akademik, beliau boleh dihubungi dengan alamat emel: napiemat@gmail.com

click.here.naffi.article.in.PDF

Masalah Karakter Bangsa dan Figur Kepemimpinan di Indonesia: Perspektif Sejarah

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Karakter bangsa bagi negara-negara kebangsaan adalah hasil dari proses pencarian dan penemuan identitas dan jati diri bangsa tersebut. Karena tiap bangsa di dunia memiliki perjalanan sejarahnya sendiri-sendiri, maka tidaklah mengherankan kalau terjadi perbedaan karakter bangsa. Tulisan ini mengkaji tentang masalah karakter bangsa dan figur kepemimpinan di Indonesia. Dengan menganalisis enam figur Presiden Indonesia, tulisan ini menunjukkan bahwa ada kaitan yang erat antara pembangunan karakter bangsa dengan keteladanan dari seorang pemimpin bangsa. Hal ini karena seorang pemimpin, terutama Presiden Indonesia, adalah figur panutan dan contoh teladan bagi rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 250 juta jiwa pada tahun 2015 nanti. Krisis kepemimpinan dan tiadanya keteladanan dari seorang pemimpin, dalam corak masyarakat Indonesia yang masih paternalistik, jelas akan mengakibatkan juga proses reduksi terhadap karakter bangsa secara keseluruhan.
KATA KUNCI: Karakter bangsa, negara-bangsa Indonesia, figure pemimpin, Presiden Indonesia, dan model kepemimpinan.

ABSTRACT: National character for nation-states is the result of seeking process and the invention of identity and national characteristic. Due to every nation in the world has its history journey, then, it is not a wonder if happened difference of national character. This article discusses about the problem of national character and leadership figure in Indonesia. By analyzing six figures of Indonesian President, this article indicates that there is closely relationship between development of national character and role model of a national leader. This condition because a leader, especially Indonesian President, is peer figure and role model for Indonesian society that amount to more than 250 million people in 2015 later. Leadership crisis and nothing role model from a leader, in Indonesian society pattern that still paternalistic, clearly will result also reduction the process of national character building as a whole.
KEY WORD: National character, Indonesia’s nation-state, leadership figure, Indonesia President, and leadership model.

About the Authors:

Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen di Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat; dan H. Iyep Candra Hermawan, M.Pd. adalah Dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: andisuwirta@yahoo.com dan fkipunsurcjr@yahoo.co.id

click.here.as.iyep.article.in.PDF

Language Use among Malaysian Bloggers

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

ABSTRACT: Blogs are now marking a new mode of communication, making impact on domains such as virtual formation of speech communities, knowledge-sharing, pedagogical implication as well as formation of virtual identity. It is estimated that more than three billion websites in the world today and more than 70 million are blogs. In Malaysia, it is estimated that half a million blogs existed. Language used by bloggers could reflect the unique pattern of discourse within the blogosphere where the combination of both monologue and dialogue in a space-bound, digital environment is observed. Some studies show that a strong sense of identity is seen within the literacy practices in blogosphere where bloggers tend to use code-switching and code mixing in their blogs. Thus, the purpose of this study was to examine the dynamics of English language use among top-ranked Malaysian bloggers from the perception of final-year TESL (Teaching English as Second Language) undergraduate students. The study reveals that there are various linguistic features found in blogs and also in the interaction with one another in meaning-making process.  Several implications are discussed.
KEY WORD: Blogs, communication, virtual identity, language use, code mixing, and TESL students in Malaysia.

IKHTISAR: Blog merupakan mod komunikasi baru yang memberi impak kepada domain seperti komuniti maya, perkongsian maklumat, implikasi pedagogi, dan pembentukan jatidiri maya. Dianggarkan lebih dari tiga bilion laman web sekarang dan lebih dari 70 juta adalah blog. Dianggarkan setengah juta blog wujud di Malaysia. Bahasa yang digunakan oleh pemblog melambangkan keunikan pola dalam sfera blog dengan gabungan monolog dan dialog dalam persekitaran digital. Beberapa kajian mendapati identiti yang tersendiri dalam amalan literasi blog di mana pemblog mempunyai kecenderungan untuk menggunakan pertukaran kod dan pencampuran kod dalam blog mereka. Tujuan kajian ini untuk mengenalpasti dinamika penggunakan Bahasa Inggeris dalam blog oleh pemblog Malaysia dari perspektif pelajar tahun akhir dalam bidang TESL. Kajian ini mendapati beberapa ciri-ciri linguistik dalam blog dalam pembinaan makna hasil dari interaksi di antara pemblog dan pembaca blog.  Beberapa implikasi dibincangkan.
KATA KUNCI: Blog, komunikasi, jatidiri maya, pengunaan bahasa, percampuran kod, dan pelajar TESL di Malaysia.

About the Authors:

Prof. Dr. Ramlee Mustapha is a Dean and Professor at the Faculty of Technical and Vocational Education UPSI (Sultan Idris University of Education), 35900 Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia; and Lydia Wong Su Mei is an English Teacher at the SMK (State Secondary School) Datuk Haji Abdul Rahman Yakub in Malaysia. E-mail: drramlee@yahoo.com

click.here.ramlee.lydia.article.in.PDF

Bercerita dalam Kaitannya dengan Pendidikan Karakter Anak

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Makalah ini mendiskusikan hubungan antara cerita anak-anak dengan pembentukan karakter. Bercerita adalah sangat penting untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan dalam kaitannya dengan memperkuat sikap dan karakter anak-anak yang baik. Karena anak-anak itu merupakan generasi harapan masa depan Indonesia, maka mendidik mereka dengan karakter yang kuat dan baik adalah merupakan keharusan. Dalam konteks bercerita untuk anak-anak, maka perlu difahami hal-hal berikut: kedudukan dan fungsi sosial bercerita dalam masyarakat; jenis cerita apa yang sesuai untuk dibawakan, khususnya untuk anak-anak; kapan waktu yang baik untuk bercerita kepada anak-anak; dan usaha-usaha apa yang harus dilakukan pada waktu dan setelah bercerita. Agar kegiatan bercerita itu mencapai sasaran yang diharapkan, maka perlu dilakukan secara serius sehingga ianya tidak hanya melayani anak menjelang tidur tetapi fungsi utamanya sebagai alat pendidikan dapat berjalan dengan lancar. Sebagai tambahan, harus juga disadari bahwa bercerita itu merupakan perlambang cinta dan kasih-sayang orang tua kepada anak-anaknya.
KATA KUNCI: Bercerita, kisah, tujuan pendidikan, pembentukan karakter, anak-anak, keluarga, dan masyarakat Indonesia.

ABSTRACT: This paper discusses the relationship between the children’s story and the character building. Storytelling is very important for gaining the educational objectives related to enhance the good children character as well as attitude. Due to the children are as young generation for further hopefully Indonesia, to educate them with good and strong characters are a must. In the context of story for children, it has to understand as following things: the position and social function of stories in the community; what kind of stories are suitable or fairy tale brought, especially to children; when a good time to undertake to tell to the children; and what efforts should be done on time and after the talk. In order the activities of story achieved the goals, needs to be done seriously so that it is not only serving as a prelude the children to sleep, but the main function as an educational tool is also really run. In addition, it should also know that the story can be a symbolic embodiment of love and affection of parents to their children.
KEY WORD: Stories, tales, educational objectives, character building, children, families, and Indonesian society.

About the Author:

Daud Pamungkas, M.Pd. adalah Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana), Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: daudp65@hotmail.com

click.here.daud.article.in.PDF

Kaedah Pembangunan Akhlak Remaja Menurut Imam al-Ghazali: Aplikasinya dalam Program Tarbiah Sekolah-sekolah Menengah Aliran Agama Berasrama di Negeri Kedah, Malaysia

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Kertas ini membincangkan kaedah pembangunan akhlak remaja menurut seorang tokoh ilmuwan Islam, iaitu Imam al-Ghazali. Kertas ini turut menyingkap siapakah tokoh terulung ini dan sejauh manakah kaedah pembangunan akhlak yang diperkenalkannya dalam kitab masyhur, “Ihya’ Ulum al-Din”, diaplikasikan dalam program tarbiah di sekolah-sekolah menengah aliran agama berasrama di Negeri Kedah, Malaysia. Kajian dijalankan dengan menggunakan borang soal selidik yang diedarkan kepada 11 orang wakil guru dan 602 orang pelajar remaja dari 11 buah sekolah di Negeri Kedah. Dapatan kajian menunjukkan bahawa kaedah pembangunan akhlak yang dicetuskan oleh Imam al-Ghazali memang diguna-pakai dan diamalkan oleh para pendidik dalam program tarbiah sekolah agama di Negeri Kedah dengan skor min keseluruhan sebanyak 4.21, iaitu pada tahap yang tinggi.
KATA KUNCI
: Imam al-Ghazali, pembangunan akhlak, remaja, kitab “Ihya’ Ulum al-Din”, dan program tarbiah.

ABSTRACT: This paper discusses the methods of moral development of teenagers according to a prominent Islamic scholar, Imam al-Ghazali. This paper also reveals who is this great scholar and what are the methods of moral development that was introduced in his famous book, “Ihya ’Ulum al-Din”. This paper also ensures which methods are applied to overreach programs in residential schools of religious in the State of Kedah, Malaysia. The study was conducted by using questionnaires that were distributed to 11 teachers and 602 students from 11 schools in the State of Kedah. The results showed that the method of moral development triggered by Imam al-Ghazali was adopted and practiced by teachers in the overreach programs with an overall mean score of 4.21, which is at a high level.
KEY WORD: Imam al-Ghazali, moral development, teenager, “Ihya ’Ulum al Din”, and overreach program.

About the Author:

Khairani binti Zakariya @ Abd Hamid ialah Calon Ijazah Tinggi Tamadun Islam, Bahagian Falsafah dan Tamadun, Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan USM (Universiti Sains Malaysia), 11800 Minden, Pulau Pinang, Malaysia. E-mail: khairani3@gmail.com

click.here.khairani.article.in.PDF

Implementing E-Learning for Increasing Student’s Motivation in Learning English

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

ABSTRACT: This study was aimed to find out the influence of E-learning for improving students’ motivation in learning English. The subject of the study was the third semester students of English Department who have a different social background of study, mostly from middle social class and suburb school. The writers applied Classroom Action Research (CAR) as a method of the study. The writers also conducted the CAR since preparation phase, planning, action, observation, and reflection. The data were collected through observation, interview, questionnaire, and documentation. The result of this research showed that the students’ motivation increased from the beginning of the study to the end of it (50% improvement). The students found easy way in accessing material using E-learning, so that they were able to practice their communication both in written and spoken forms by using it. Finally, they were also motivated in learning English.
KEY WORD: E-learning, English students, motivation, classroom action research, and teaching-learning process.

IKHTISAR: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi mahasiswa dalam belajar Bahasa Inggris dengan menggunakan E-learning. Subjek dari penelitian ini adalah mahasiswa semester 3 pendidikan Bahasa Inggris yang berasal dari latar belakang yang berbeda, dan sebagian besar berasal dari daerah pedesaan. Penulis menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai metode dalam penelitian ini. Penulis melakukan tahapan PTK dari mulai perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa meningkat dari awal penelitian hingga akhir (peningkatannya sebesar 50%). Mahasiswa juga mudah dalam mengakses berbagai sumber dengan menggunakan E-learning, sehingga mereka dapat mempraktekkan Bahasa Inggris, lisan dan tertulis, dengan baik dan penuh antusias. Akhirnya, mereka juga nampak bahwa motivasi mereka dalam belajar Bahasa Inggris meningkat.
KATA KUNCI: E-learning, mahasiswa bahasa Inggris, motivasi, penelitian tindakan kelas, dan proses belajar-mengajar.

About the Authors:

Saefurrohman, M.Pd. and Lutfi Istikharoh, M.Pd. are Lecturers at the Faculty of Education and Teacher Training UMP (Muhammadiyah University of Purwokerto), Jalan Raya Dukuhwaluh, Purwokerto City, Central Java, Indonesia. E-mail address: saefur19@gmail.com

click.here.sae.isti.article.in.PDF

Pelancongan Pendidikan: Tinjauan Konseptual dan Potensinya di Malaysia

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Pelancongan pendidikan ialah program yang melibatkan perjalanan ke sesuatu lokasi oleh sekumpulan individu untuk tujuan membina pengalaman secara terus. Pelancongan pendidikan dilihat berpotensi besar sebagai suatu segmen pasaran baru dalam agenda ekonomi Malaysia. Dalam Rancangan Malaysia ke-9, umpamanya, sumber pendapatan Malaysia dari sektor ini meningkat daripada RM 220 juta pada tahun 2000 kepada RM 450 juta pada tahun 2005. Antara kelebihan yang mendorong kepesatan pelancongan pendidikan di Malaysia ialah penawaran pendidikan berkualiti tinggi, kepelbagaian pilihan kursus, yuran pengajian yang berpatutan, aplikasi teknologi pendidikan yang meluas, serta wujudnya aneka pilihan institut pendidikan tinggi, sama ada awam mahupun swasta. Ringkasnya, kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi yang memberangsangkan adalah asas penting dalam merealisasikan Malaysia sebagai hub pelancongan pendidikan yang terkemuka di rantau Asia Pasifik khususnya dan di peringkat dunia amnya.
KATA KUNCI: Pelancongan pendidikan, agenda ekonomi Malaysia, pendidikan berkualiti tinggi, dan kestabilan politik.

ABSTRACT: Educational tourism refers to any program in which participants travel to a location as a group with the primary purpose of engaging in a learning experience directly. Educational tourism with great potential as a new market segment in Malaysia’s economic agenda. In the 9th Malaysia Plan, Malaysia revenue from this sector increased from RM 220 million in 2000 to RM 450 million in 2005. Among the educational advantages of tourist attractions in Malaysia are offering high quality education, diverse selection of courses, tuition fees are reasonable, the widespread application of educational technology, and the existence of multiple choice institutes of higher education whether public or private. In short, political stability and encouraging economic growth is fundamental in realizing Malaysia as a leading educational travel hub in the Asia Pasific region in particular and the world in general.
KEY WORD: Educational tourism, Malaysia’s economic agenda, high quality education, and political stability.

About the Authors:

Ruzanna Syamimi Ramli ialah Pelajar Sarjana di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan USM (Universiti Sains Malaysia), Kampus Induk, 11800 Pulau Pinang, Malaysia. Alamat emel: rusya_1304@yahoo.com.my Manakala Dr. Jabil Mapjabil ialah Pensyarah Kanan di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan USM. Alamt emel: bill@usm.my

click.here.ruzana.jabil.article.in.PDF

Transformasi Pembelajaran Sejarah Berbasis Religi dan Budaya untuk Menumbuhkan Karakter Siswa

Posted by Administrator on June 5th, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

IKHTISAR: Studi ini berkenaan dengan perkembangan tarik-ulur antara identitas nasional dan budaya global, khususnya diantara generasi muda Indonesia. Sekolah, sebagai lembaga formal yang didirikan oleh pemerintah, memainkan peranan penting dalam mentransformasikan nilai-nilai budaya lokal kepada para siswa sebagai generasi muda. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Hal ini bermaksud untuk menggali dan mengumpulkan data tentang nilai-nilai budaya dan agama dari para siswa SMA (Sekolah Menengah Atas) di Banten. Data dikumpulkan melalui dua instrumen utama: (1) Wawancara dengan para siswa, guru, dan kepala sekolah dari tiga SMA yang berbeda di Banten; serta (2) Observasi terhadap pembelajaran sejarah di kelas dan kegiatan ekstrakulikuler. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam kenyataannya sekolah telah memasukan materi tentang nilai-nilai religi dan budaya lokal dalam proses pembelajaran sejarah. Para siswa juga masih memegang erat tradisi mereka tentang nilai-nilai budaya dan agama Islam di Banten. Hal ini penting dalam pembentukan karakter para siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari.
KATA KUNCI: Transformasi pembelajaran sejarah, basis nilai-nilai religi dan budaya, serta siswa SMA di Banten.

ABSTRACT: This study is concerning on the growing tension between national identity and global culture, especially among the young people in Indonesia. Schools, as formal institutions developed by the government, are considered to play a crucial role in transforming the local cultural values to the students as young generation. This study is a qualitative research by using the ethnographic approach. It is aimed to collect and investigate the data of cultural and religious values among senior high school students in Banten. Data are collected through two main instruments: (1) Interviews with the students, teachers, and headmasters of three different senior high schools in Banten; and (2) Observations of history classes and extracurricular activities. The results show that the schools have actually inserted the contents of religious and local cultural values in the history teaching. Students still also abide their traditions that are deeply rooted on the values of Islam and Banten culture. It is important to developing students’ character in their everyday life.
KEY WORD: Transforming the history teaching, religious and cultural’s values-based, and senior high school students in Banten.

About the Author:

Dr. Encep Supriatna adalah Dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Jalan Dr. Setiabudhi No.229 Bandung 40154, Jawa Barat, Indonesia. Alamat e-mail: cepsup@yahoo.co.id

click.here.encep.article.in.PDF

Perceptions of Mentors and Mentees on the Importance of Engaging in Reflective Practices in the Mentoring Process During the Teaching Practicum

Posted by Administrator on June 1st, 2012. Filed in Latest Edition,Vol 2 (1) Juni 2012.

ABSTRACT: The purpose of this study is to investigate the factors that influenced the reflective practices by mentors and mentees in the mentoring process during the teaching practicum. The study was carried out in two secondary schools in Sabah, Malaysia. Nine mentees and twelve teacher mentors participated in the study. A qualitative case study was employed to explore the experience of mentors and mentees who engaged in the reflective practices. The study showed that the overall impact of engaging in reflective practices obviously was varied, but generally positive for both mentees and mentors. By utilizing the positive outcomes of this study, it indicates that it is important for mentors and mentees to engage in reflective practices and reflective journal-writing. These two components should be a major component to be included of the teacher training program and emphasized throughout the teacher practicum.
KEY WORD: Mentoring process, reflective practices, mentors, mentees, interpersonal skills, and reflective journals.

IKHTISAR: Tujuan kajian ini adalah untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi amalan reflektif oleh mentor dan mentee dalam proses pementoran semasa praktikum pengajaran. Kajian ini telah dijalankan di dua buah sekolah menengah di Sabah, Malaysia. Sembilan orang mentee dan dua belas orang mentor guru terlibat dalam kajian ini. Satu kajian kes kualitatif telah digunakan untuk meneroka pengalaman mentor dan mentee yang terlibat dalam amalan reflektif. Kajian menunjukkan bahawa kesan keseluruhan terlibat dalam amalan reflektif adalah pelbagai, tetapi pada umumnya adalah positif bagi kedua-dua mentee dan mentor. Dengan menggunakan hasil positif daripada kajian ini, ia menunjukkan bahawa adalah penting untuk mentor dan mentee melibatkan diri dalam amalan reflektif dan penulisan jurnal reflektif. Kedua-dua komponen ini harus dimasukkan ke program latihan perguruan dan ditekankan sepanjang praktikum guru.
KATA KUNCI: Proses pementoran, amalan reflektif, mentor, mentee, kemahiran interpersonal, dan jurnal reflektif.

About the Author:

Dr. Christina Peter Ligadu is a Senior Lecturer and International Coordinator at the School of Education and Social Development UMS (Malaysia University of Sabah), Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. E-mail: ligadu@ums.edu.my

click.here.cp.ligadu.article.in.PDF