Pemerkasaan Bahasa Melayu Melalui Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual: Satu Anjakan Teori dan Amalan
ABSTRAK: Tiada satu pendekatan pun yang boleh dikatakan sebagai pendekatan yang terbaik dan mesti digunakan dalam pengajaran dan pembelajaran Bahasa Melayu. Kertas kerja ini cuba mengutarakan beberapa aspek yang ada dalam pendekatan pembelajaran kontekstual dan bersama-sama menelitinya, sama ada elemen-elemen yang mendokongnya itu sesuai diaplikasikan dalam pengajaran dan pembelajaran Bahasa Melayu atau tidak. Oleh itu, kertas kerja ini memfokuskan perbincangan kepada hal-hal yang berkaitan dengan pengertian, rasional, bentuk, strategi, dan beberapa perkara yang berkisar tentang pendekatan pembelajaran kontekstual, termasuklah membandingkan pendekatan pembelajaran kontekstual dengan pendekatan pembelajaran tradisional, dan akhirnya ialah matlamat pendekatan pembelajaran kontekstual. Pendekatan pembelajaran kontekstual yang berkesan memerlukan kesepakatan murid dan guru, kerjasama semua pihak, dan interaksi antara kurikulum, kaedah pengajaran, situasi, dan masa. Malah, pembelajaran yang efektif juga memerlukan penglibatan masyarakat dan industri. Mereka perlu bekerjasama bagi merancang strategi yang dapat menjayakan wawasan sekolah. Dengan itu, semua pihak sebagaimana yang tersebut, iaitu sekolah, industri, masyarakat perlu positif dan bersedia menerima perubahan jika mahu akan kejayaan pengajaran dan pembelajaran secara kontekstual. Namun begitu, hakikat bahawa pendekatan pembelajaran kontekstual ini ada kekuatan dan kelemahannya, jika diaplikasikan dalam pengajaran dan pembelajaran Bahasa Melayu tidaklah dinafikan.
KATA KUNCI: Pendekatan pembelajaran, pemerkasaan Bahasa Melayu, dan pembelajaran secara kontekstual dan tradisional.
About the Author:
Nik Hassan Basri Nik Ab Kadir ialah Pensyarah pada Fakulti Bahasa dan Komunikasi UPSI (Universiti Pendidikan Sultan Idris), Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Alamat emel: nhbupsi@yahoo.com
Analisis Kebijakan Nasional tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kredit pada SMA Negeri di DKI Jakarta
ABSTRAK: Menyadari pentingnya peranan para guru dalam keberhasilan pendidikan, sangatlah wajar jika kondisi mereka diperhatikan sehingga motivasi mereka dalam melaksanakan tanggung jawab tersebut semakin tinggi. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi para guru dalam bekerja adalah perhatian terhadap pembinaan karier mereka. Pembinaan karier, dengan demikian, perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Dan untuk meningkatkan kinerja para guru, pemerintah perlu memberikan gambaran yang jelas tentang jalur-jalur dan kesempatan dalam pengembangan karier mereka. Kondisi ini diharapkan akan melahirkan para pendidik yang mempunyai motivasi kuat dalam meningkatkan kemampuan profesionalisme mereka, sehingga kualitas pendidikan dapat terus ditingkatkan. Penelitian ini menunjukkan bahwa Pemerintah DKI Jakarta telah melaksanakan program jabatan fungsional guru dan kreditnya sesuai dengan pedoman pelaksanaan yang telah ditetapkan. Implementasi program jabatan fungsional guru dan angka kreditnya di DKI Jakarta telah berlangsung sejak tanggal 2 Mei 1989, yang diperbarui pada tanggal 24 Desember 1993. Fokus pelaksanaan program ini diletakkan pada peningkatan kenaikan jabatan guru SMA Negeri. Pemerintah DKI Jakarta juga telah melaksanakan program jabatan fungsional guru dan angka kreditnya dengan baik dan lancar. Namun, upaya peningkatan kenaikan pangkat para guru SMA Negeri di DKI Jakarta, melalui jabatan fungsional guru dan angka kreditnya, masih harus ditingkatkan, khususnya kenaikan pangkat para guru dari golongan IVa ke golongan IVb yang masih rendah.
KATA KUNCI: Analisis kebijakan, jabatan fungsional guru, kenaikan pangkat, pembinaan karier, dan profesionalisme guru.
About the Author:
Dr. Hj. Sini Suwarni adalah Dosen Senior pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UHAMKA (Universitas Muhammadiyah Dr. HAMKA, Haji Abdul Malik Karim Amrullah) di Jakarta, Indonesia. Alamat emel beliau adalah: anti.bandang@gmail.com
The Social Purposes of Learning Assessment
ABSTRACT: Assessment has been studied by many researchers and educators from the prism of educational theories which means a purely instructional or pedagogical analysis of assessment. But there is an open space in which learning assessment could be further scrutinized using sociological perspective, so that we could explore and expose the social roles of assessment. This discussion is engaged in the analysis of the social consequences of assessment and its resistances from the various participants of teaching and learning process. Assessment has been widely used for accountability, control, and sorting mechanism of society to distribute the limited social positions that are available. Thus, only those students who are properly equipped with knowledge, values, and competencies are the ones who excel in the assessment devices. Students in the lower echelon of society are left with limited opportunities for social mobility and employment, due to their limited capacity to pass through this filtering machine called assessment. So, there some manifest and latent resistances that students as well as teachers about the negative consequences of assessment. Thus, assessment is not only a system to improve learning, account teachers, and schools but rather is an instrument of academic segregation and tracking. Assessment should be viewed beyond the walls of classroom by looking at the close but intricate linkage of assessment and society. Since assessment is a social fact, therefore, we need to consider how it is developed and practiced in everyday life of teachers and students. Education is never neutral, according to Paulo Freire, and also assessment is can never be neutral. It is resisted by some sector of society, but it is still a very strong mechanism to classify and rank people in a society. It serves a purpose in perpetuating a society’s present order as well as a site to perturb the existing order by its results.
KEY WORD: Assessment, social roles and purposes of assessment, academic performance, and resistance of assessment.
About the Author:
Assistant Professor Arthur S Abulencia is a Lecturer at the Faculty of Social Sciences Education PNU (Philippine Normal University), Taft Avenue, Manila 1000, Philippine. He can be reached at: arthurpnu@yahoo.com and asabulencia@gmail.com
Konsepsi Murid Berumur 10 Tahun tentang Pembahagian Melibatkan Sifar
ABSTRAK: Kajian ini meneliti konsepsi murid berumur 10 tahun tentang pembahagian melibatkan sifar dengan berlandaskan teori konstruktivisme radikal. Data dikumpulkan daripada 7 orang murid melalui 2 sesi temu duga klinikal yang melibatkan tugas menggambarkan konsep bahagi, menggambarkan konsep sifar, menyelesaikan masalah bahagi tanpa dan dengan sifar, dan menyelesaikan masalah darab melibatkan sifar. Majoriti murid didapati menggambarkan konsep bahagi dengan menulis simbol standard bagi operasi bahagi dan simbol bagi pembahagian panjang, manakala simbol bagi sifar pula dibaca sebagai “kosong” dan ditafsirkan sebagai tidak ada apa-apa atau tidak ada nombor. Seterusnya, murid menggunakan kaedah pengukuran, pemetakan, dan penolakan berulang, baik secara sendiri mahupun secara gabungan untuk menyelesaikan masalah bahagi tanpa sifar. Sesetengah murid turut menggunakan algoritma pembahagian panjang untuk menyokong jawapan mereka. Bagi kedua-dua pembahagian melibatkan sifar dan tanpa sifar, semua murid menggunakan penjelasan berasaskan peraturan untuk menjustifikasikan jawapan mereka, dalam mana penjelasan tersebut mengandungi beberapa unsur yang berbeza. Sebagai tambahan, penyelesaian murid bagi masalah pembahagian tanpa sifar nampaknya berkisar pada tafsiran mereka tentang operasi bahagi, manakala penyelesaian bagi masalah bahagi melibatkan sifar pula nampaknya berkisar pada tafsiran mereka tentang sifar sebagai “kosong”.
KATA KUNCI: Murid Sekolah Rendah, bahagi, darab, sifar, konsepsi, dan konstruktivisme radikal.
About the Authors:
Prof. Dr. Nik Azis Nik Pa ialah Pensyarah di Fakulti Pendidikan UM (Universiti Malaya), Kuala Lumpur, Malaysia. Alamat emel beliau adalah: nikazis@um.edu.my. Manakala Dr. Faridah Mohamed Ibrahim ialah Pensyarah di Pusat Asasi Sains UM (Universiti Malaya), Kuala Lumpur, Malaysia. Alamat emel beliau adalah: faridah124@um.edu.my
Lektur Agama Islam: Konsep dan Penanganan Naskah Klasik Nusantara
ABSTRAK: Naskah-naskah keislaman di Nusantara sangat banyak jumlahnya. Dapat diperkirakan jauh lebih banyak dari naskah-naskah lainnya yang ada di Nusantara saat ini. Banyaknya naskah-naskah keislaman di Nusantara dipengaruhi oleh etos budaya tulis yang dibawa oleh peradaban Islam dari jazirah Arab ke Nusantara. Keseriusan dan kejelian para ilmuwan Islam dalam mengkodifikasi berbagai buah pikiran dari masa lalu membuahkan hasil berupa semakin mantapnya bahan bacaan bagi umat Islam yang hadir berikutnya. Adanya spesifikasi keilmuan seperti ilmu tafsir dan bacaan Al-Qur’an, ilmu Hadits, fiqih, ilmu kalam, tasawwuf, ilmu bahasa (nahwu, sharaf, fonologi, dan balaghah), hingga termasuk biologi, fisika, astronomi, dan lain-lain semakin mempermudah para pelajar dalam mendalami bidang ilmu yang diminatinya. Seiring dengan perkembangan keilmuan Islam di berbagai belahan dunia lainnya, keilmuan Islam juga berkembang di Nusantara sehingga menumbuhkan banyaknya karya-karya keislaman. Teks di dalam naskah-naskah keislaman di Nusantara ada yang berupa salinan, saduran, dan adapula yang otograf. Naskah-naskah tersebut perlu dikaji melalui dua tahap, yakni tahap filologi dan tahap analisis terhadap isi dengan tanpa mengabaikan yang satu dari yang lainnya. Keseriusan penanganan naskah klasik keagamaan tidak hanya dipertaruhkan pada perhatian para filolog saja, tetapi juga perhatian para cendekiawan Muslim pada umumnya, dan – jika mungkin – dapat saja melibatkan beberapa pihak lainnya. Kerja bersama di antara beberapa pihak ini diharapkan akan mampu menyelesaikan persoalan naskah klasik keislaman, dari mulai penanganan naskah dan pernaskahan hingga penggalian kandungan isinya.
KATA KUNCI: Nusantara, naskah Islam, spesifikasi keilmuan, kajian filologi, dan analisis isi naskah.
About the Author:
Dr. Hj. Titin Nurhayati Ma’mun adalah Dosen pada Program Studi Filologi Pascasarjana UNPAD (Universitas Padjadjaran), Jalan Bandung-Sumedang Km.15 Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia. Alamat emel: titin_makmun@yahoo.co.id
Scientists and Their Society: Between Advocacy and Arbitration
ABSTRACT: Science is playing an increasing part in many decision making processes. It is now up to the scientists and scientific communities to advocate the importance of science in society. In doing so, we should be able to distinguish analysis from advocacy and should also be humble in remembering that good science does not necessarily produce an obvious policy main road. Our task is to ensure the maximal results, for the public at large and to offer advice to the society to gain a minimal risk. Along the line, we should be concerned of the value of good science education through formal and informal channels. One maxim that is sometimes overlooked is that we should not try to make politics more scientific. It is counter productive as it will turn science more political. More importantly, it is suggested that the following way and mechanism can be followed: (1) to improve the awareness of scientists about the current and future scientific and technical aspects of basic science; (2) to enhance scientific co-operations among developing institutions, including the exchange of scientific information; (3) to explore avenues of education, training and research on basic science subject for the benefit for people in the region; and (4) to create an “international” core group of scientists to pursue the objective of the cooperation and to link with advanced industrial countries. At the same time, our realization of the wealth of scholarly resources in the Asia-Pacific regions should grow. It is advisable, therefore, to start as a first step in the near future to pool these valuable human resources for environmental research.
KEY WORD: The scientists, roles, society, advocacy, science in society, good science education, and peace and wealth society.
About the Author:
Prof. Dr. Bambang Hidayat is a member of the Indonesian Academy of Sciences (AIPI, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) in Jakarta; former Director of Bosscha Astronomy Observatory in Lembang, Bandung; and Professor at ITB (Bandung Institute of Technology) in West Java, Indonesia. For academic purposes, he can be reached at: hidayatbambang@yahoo.com and bhidayat07@hotmail.com
Teknologi Komunikasi dan Maklumat dalam Program Pendidikan Khas Aliran Teknik dan Vokasional di Malaysia
ABSTRAK: Kajian ini bertujuan meninjau sejauhmana penerimaan dan penggunaan komputer dalam pengajaran dan pembelajaran pelajar dan guru Sekolah Pendidikan Khas. Responden bagi kajian ini adalah terdiri daripada guru-guru dan pelajar Sekolah Menengah Pendidikan Khas Vokasional Shah Alam (Selangor), Sekolah Menengah Pendidikan Khas Vokasional Indah Pura Kulai (Johor), dan Sekolah Menengah Teknik Batu Pahat (Johor). Sampel kajian ini melibatkan 55 orang guru, 117 pelajar, dan borang soal selidik telah digunakan untuk mengumpul data dalam kaedah tinjauan ini. Data dari soal selidik dianalisis dengan menggunakan Statistical Package for Social Science 11.3 for Windows (SPSS) untuk mendapatkan skor min, peratusan, dan sisihan piawai. Keputusan menunjukkan bahawa guru menerima dan menggunakan komputer dalam proses pengajaran dan pembelajaran; manakala pelajar adalah sebaliknya. Melalui ujian ANOVA, tidak terdapat perbezaan yang signifikan antara pelajar di setiap sekolah berkaitan dengan penerimaan dan penggunaan komputer dalam proses pembelajaran. Oleh itu, beberapa cadangan telah dibuat untuk meningkatkan penerimaan dan penggunaan komputer dalam proses pengajaran dan pembelajaran di Sekolah Pendidikan Khas di Malaysia. Antaranya ialah guru sepatutnya sentiasa peka terhadap perkembangan teknologi terkini serta menyertai kursus tentang penggunaan komputer agar dapat mempelbagaikan teknik pengajaran.
KATA KUNCI: Teknologi komunikasi dan maklumat, pendidikan vokasional, guru dan murid, serta penggunaan komputer dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
About the Author:
Baharom Mohamad ialah Pensyarah Kanan di Sekolah Pendidikan dan Pembangunan Sosial UMS (Universiti Malaysia Sabah), Beg Berkunci, Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia. Alamat emel beliau adalah: baharom@ums.edu.my
Hubungan Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam dalam Perspektif Sejarah
ABSTRAK: Memadukan Islam dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah satu pemikiran yang didasarkan pada asumsi bahwa pengembangan IPA dalam konteks ke-Islam-an merupakan suatu keharusan bagi kelanjutan peradaban umat manusia yang harmonis di masa depan. Tulisan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menjadi sumber inspirasi dan motivasi dalam hal pengkajian berbagai fenomena alam. Beberapa ilmuwan Muslim yang telah mengukir namanya dalam sejarah Ilmu Pengetahuan Alam adalah merupakan bukti tentang bagaimana Islam sebagai agama universal yang sangat konsen dengan pengembangan ilmu pengetahuan dari zaman ke zaman. Agama Islam telah memberi pilihan dan panduan kepada manusia tentang jalan hidup yang akan dilaluinya. Dengan ilmu pengetahuan, manusia akan lebih bijaksana untuk menentukan pilihan-pilihan hidup. Nabi Muhammad SAW (Salallahu ‘Alaihi Wassalam) mengatakan bahwa “Ilmu tanpa iman bencana, iman tanpa ilmu gelap”. Dengan demikian harus dilakukan pengkajian fenomena alam dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan alam dalam konteks mempertebal iman, takwa, da sikap rohaniyah kepada Tuhan dengan berpijak pada sejarah bagaimana kejayaan Islam dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan sejak zaman pertengahan hingga sekarang adalah merupakan kesinambungan dan perubahan.
KATA KUNCI: ilmu pengetahuan alam, agama Islam, ilwuwan Muslim, dan mempertebal sikap rohaniyah kepada Tuhan.
About the Authors:
Dr. Muhammad Nahadi adalah Dosen di Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung; Farida Sarimaya, M.Si. adalah Dosen di Jurusan Pendidikan Sejarah FPIPS UPI di Bandung; dan Sri R Rosdianti, S.Pd. adalah Guru IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) di SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri) 9 Bandung dan SMP (Sekolah Menengah Pertama) Labschool UPI Kampus Cibiru di Bandung. Alamat e-mail mereka adalah: hadinahadi@yahoo.co.id dan sriandi_wirtacie@yahoo.co.id
Effective Models of Teaching and Learning for New Type of Students
ABSTRACT: Educators are faced with the challenge of adapting their teaching styles to accommodate a new generation of digital learners. These digital learners, who are now entering colleges and universities, have learning expectations, styles, and needs different from past students. The question is how to adapt teaching strategies to accommodate the digital learners, in light of their preferences for digital literacy, experiential learning, interactivity, and immediacy? Meanwhile, the higher education today has also the opportunity to reshape itself and play an important role in the future of our society. Whether that role is ultimately fulfilled will depend on fresh, creative thinking, and a firm commitment to move teaching, learning, and the university into the digital age. The manner in which students are taught will not truly change until the manner in which we teach and evaluate students change. This working paper tries to elaborate the multiple studies that suggest moving students from consumers of information to producers of information. This is the key to engaging digital learning. However, until teachers are trained to expect and accept content gathered through social networks with emphasis on teaching students how to check validity and reliability of the web, the full power of the digital natives can not be released or expanded. Finally, this working paper recommends that teachers must allow students to publish broadly then promote peer and expert outside evaluation. These new learners are instructed by teachers who, for the majority, spent childhoods engulfed in television programs that fed information for consumption, rather than interaction, omitting the choices and short snippets that lead to further discovery.
KEY WORD: Teaching and learning styles, digital era, higher education roles, and digital capabilities of teacher and student.
About the Author:
Prof. Dr. Ramlee Mustapha is Dean of Institute for Post-Graduate Studies UPSI (Sultan Idris University of Education), 35900 Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. He can be reached at: drramlee@yahoo.com









