Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik NHT (Number Head Together)
IKHTISAR: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa Kelas VIII-A SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 1 Gunung Jati di Cirebon melalui pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT (Number Head Together). Penelitian dilakukan dari bulan Januari hingga April 2011. Penelitian ini menggunakan metode PTK (Penelitian Tindakan Kelas) selama tiga siklus. Setiap siklus pada penelitian meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh dalam bentuk kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada setiap siklus mengalami kemajuan dan perbaikan. Hal itu bermakna bahwa pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
KATA KUNCI: Pelajaran Fisika, pembelajaran kooperatif, tipe Number Head Together, dan motivasi belajar siswa.
ABSTRACT: This study aimed at improving learning motivation of VIII-A grade students in the State Junior High School 1 Gunung Jati, Cirebon through cooperative learning with NHT (Number Head Together) type. This study was conducted from January to April 2011. This study also used Classroom Action Research method for three cycles. Each cycles included planning, implementation, observation, and reflection. The data was obtained in form of qualitative and quantitative. The research finding showed that every cycles had progress and improvement. It meant that cooperative learning with NHT type could improve the students’ learning motivation.
KEY WORD: Physics subject, cooperative learning, Number Head Together type, and students’ learning motivation.
About the Authors:
Abdul Fatah, M.Pd. adalah Guru IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 1 Gunung Jati Cirebon, Jalan Sunan Gunung Jati, Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Indonesia; dan Sri R. Rosdianti, S.Pd. adalah Guru IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) di SMP Labschool UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Kampus Cibiru, Bandung. Alamat emel: abdulfatah1970@yahoo.co.id dan aspensi@yahoo.com
Pengembangan Bahan Ajar Praktikum Kalkulus Melalui Program Maple untuk Meningkatkan Penalaran dan Representasi Mahasiswa
ABSTRAK: Matematika, terutama materi Kalkulus, merupakan pelajaran yang sukar karena mengandung konsep yang sangat rinci. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bermaksud untuk pengembangan sumber pengajaran berbentuk pedoman praktikum dan lembar kerja Kalkulus dengan menggunakan program maple. Subjek dalam penelitian ini adalah para mahasiswa semester empat Pendidikan Matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Skala sikap, Lembar observasi, Lembar kerja evaluasi praktikum, dan Tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengembangan sumber pengajaran Kalkulus dengan menggunakan program maple sangat efektif; (2) pemahaman dan gambaran mahasiswa meningkat secara signifikan tetapi masih di bawah indikator; dan (3) sikap mahasiswa terhadap praktikum Kalkulus sangat positif.
KATA KUNCI: Kalkulus, program maple, kompetensi, pemahaman, dan presentasi mahasiswa.
ABSTRACT: Mathematics, especially Calculus, is a difficult subject due to contain a detailed concept. This classroom action research is intended for teaching resource development in form of practicum guidance and Calculus work sheet by using maple program. Subjects in this research are students of fourth-semester of Mathematics education at the Faculty of Education and Teacher Training UNSUR (Suryakancana University) in Cianjur, West Java, Indonesia. Instruments used in this research included: Attitude scale, Observation sheet, Work sheet of practicum evaluation, and Test. Research results showed that: (1) the development of Calculus practicum teaching sources using maple program is very effective; (2) the students’ comprehension and representation are improving significantly but it is still below the indicator; and (3) students’ attitude toward Calculus practicum is very positive.
KEY WORD: Calculus, maple program, students’ competences, comprehension, and representation.
About the Author:
Siti Andriani, M.Pd. adalah Dosen Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: sitiandriani85@yahoo.co.id
Application of Q & A Technique in Learning for Students Development
ABSTRACT: There are various teaching methods can be used in accordance with the learning objectives. The Question and Answer (Q & A) aims to continuously encourage students to think and stay focused during the learning session. The Q & A’s activities are indeed beneficial for students. However, special attention should be given on the planning and implementation of the session for the optimum benefits. Questions and answers session can be one of the classroom teaching techniques to enhance student confidence and their development. To this date, excellent students are no longer assessed on their academic development. Student development should be seen in terms of academic and personal development (personal qualities and leadership). Personal development is very important in producing students who are disciplined, having creative and critical thinking with the ability to communicate, and skilled in planning and decision making. Thus, this article discusses the planning and implementation of the Q & A as one of the teaching techniques in enhancing development of students.
KEY WORD: Question and answer, students, teaching method, development, personality, and training.
IKHTISAR: Terdapat pelbagai kaedah pengajaran yang boleh digunakan agar selari dengan pencapaian objektif pembelajaran. Soal jawab bertujuan untuk menggalakkan pelajar berfikir dan sentiasa fokus ketika sesi pembelajaran berlangsung. Banyak manfaat dapat diperolehi oleh pelajar daripada aktiviti soal jawab ini. Walau bagaimanapun, perancangan dan pelaksanaan soal jawab perlu dititikberatkan bagi mendapat manfaat yang optimum. Soal jawab boleh dijadikan salah satu teknik pengajaran di dalam kelas bagi meningkatkan keyakinan pelajar dan juga pembangunan pelajar. Kecemerlangan pelajar abad ini tidak hanya tertumpu kepada pembangunan akademik sahaja. Pembangunan pelajar perlu dilihat dari segi akademik dan juga sahsiah (kualiti diri dan kepimpinan). Pembangunan sahsiah amat penting dalam melahirkan pelajar yang berdisiplin, berfikir kreatif dan kritis dengan berkemahiran dalam berkomunikasi, dan berkemahiran merancang dan membuat keputusan. Justeru, artikel ini mengupas perancangan dan pelaksanaan kaedah soal jawab sebagai salah satu teknik pengajaran dengan tujuan untuk meningkatkan pembangunan pelajar.
KATA KUNCI: Soal jawab, pelajar, teknik pengajaran, pembangunan, sahsiah, dan latihan.
About the Author:
Assoc. Prof. Dr. Norhasni Zainal Abiddin is a Lecturer at the Department of Professional Development and Continuing Education, Faculty of Educational Studies UPM (Putra/Agricultural University of Malaysia), Serdang, Selangor Darul Ehsan, Malaysia. She can be contacted at: nonie@putra.upm.edu.my
Menjawab Tantangan Global dengan Mengembangkan Potensi Lokal: Studi Kasus pada Budaya dan Literasi Masyarakat Cianjur
IKHTISAR: Kekayaan alam dan budaya Cianjur perlu dikenali, diapresiasi, diekspresikan, dan dikreasikan sebagai wujud syukur masyarakat Cianjur kepada pencipta-Nya. Hal ini merupakan salah satu implementasi dari program Kabupaten Cianjur, yakni “Gerbang Marhamah”. Beragam keunggulan budaya lokal yang ada di Cianjur telah dikenal luas, baik oleh masyarakat Indonesia maupun dunia. Budaya Cianjur seperti “Mamaos” (budaya), “Ngaos” (agama), dan “Maenpo” (tangguh) merupakan budaya yang unik di dunia. Keunikannya itu akan dapat diapresiasi, diekspresikan, dan dikreasikan apabila disosialisasikan melalui bacaan. Sampai saat ini, bacaan tidak dapat dipisahkan dari pendidikan – yang merupakan jembatan bagi peningkatan sumber daya manusia. Pengungkapan potensi ke-Cianjur-an melalui bacaan diharapkan berdampak positif terhadap peningkatan literasi masyarakat Cianjur.
KATA KUNCI: Potensi budaya, literasi, modal sosial, masyarakat Cianjur, bangsa Indonesia, dan era globalisasi.
ABSTRACT: Natural and cultural richness of Cianjur needs to be recognized, appreciated, expressed, and improvised as an Cianjur society’s act of gratitude to her Creator. This is one of the implementation of the Cianjur District program, “Gerbang Marhamah” (the gate of love and affection). Various superior local cultural in Cianjur has been widely recognized, both by the people of Indonesia and the world. Cianjur’s cultures like “Mamaos” (culture), “Ngaos” (religion), and “Maenpo” (honesty) is a unique culture in the world. Its uniqueness would be appreciated, expressed, and improvised if it’s been socialized through reading. Until now, the readings cannot be separated from education – which is the bridge for the improvement of human resources. Disclosure of Cianjuranness potential through reading is expected would have positive impact on increasing the public Cianjur’s literacy.
KEY WORD: Cultural potential, literacy, social capital, Cianjur’s community, Indonesian nation, and globalization era.
About the Author:
Dr. Hj. Siti Maryam adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNSUR (Universitas Suryakancana) di Kota Cianjur, Jawa Barat, Indonesia. Untuk kepentingan penelitian dan akademik, penulis boleh dihubungi dengan alamat emel: yams1964@yahoo.com
Membincang Kembali Masalah Etnisitas, Nasionalitas, dan Integrasi Nasional di Indonesia
IKHTISAR: Proses genesis dan perkembangan nasionalisme di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan dinamis. Pengenalan sistem pendidikan modern pada awal abad ke-20 telah melahirkan golongan elite terdidik dan cendekiawan yang tercerahkan. Sekat-sekat etnisitas mulai mencair dan gambaran imajiner tentang negara-bangsa yang bernama “Indonesia” mulai diwacanakan dan diperjuangkan agar menjadi kenyataan. Proses modernisasi dan pembangunan pasca kemerdekaan melahirkan banyak harapan agar Indonesia merupakan “proyek bersama” bagi semua anak bangsa. Namun gejala ketidakpuasan terhadap proses dan hasil pembangunan juga muncul yang ditopang oleh akar-akar etnisitas yang kembali menguat. Masalah etnisitas, nasionalitas, dan integrasi nasional di Indonesia memiliki konteks historis yang khas. Akhirnya, diperlukan kearifan sejarah untuk bisa mewujudkan Indonesia menjadi negara-bangsa yang maju, sejahtera, dan merdeka bagi semua anak bangsa di masa depan.
KATA KUNCI: Etnisitas, nasionalitas, golongan cendekiawan, negara-bangsa Indonesia, dan integrasi nasional.
ABSTRACT: The genesis process and nationalism development in Indonesia has its long journey and dynamic history. The introduction of modern education in the early 20th century has emerged the educated elite group and enlightened intellectuals. Ethnicity gaps have melted and an imagined community, i.e. “Indonesia”, has begun to be discussed and struggled in order to be realized. Modernization process and post-independence development have resulted in wishes to make Indonesia become “collective project” for all people of nation-state. However, the symptom of dissatisfaction on the development process and result appeared which were supported by ethnicity roots that were stronger. The problems of ethnicity, nationality, and national integration in Indonesia have particular historical context. Finally, it needs historical wisdom to realize Indonesia become progress, prosperous, and independent nation-state for all sons of nation in the future.
KEY WORD: Ethnicity, nationality, intellectual group, Indonesia nation-state, and national integration.
About the Authors:
Andi Suwirta, M.Hum. adalah Dosen Senior di Jurusan Pendidikan Sejarah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) di Bandung; dan Dr. Arlin Adam adalah Dosen Senior di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UVRI (Universitas Veteran Republik Indonesia) di Makassar. Alamat emel: aspensi.bandung2006@gmail.com
Madrasah Education in India: A Need for Reformation
ABSTRACT: Since time immemorial, the Muslim youth who obtained Madrasah education are in doldrums in a modern world. It’s accepted phenomenon that Madrasah had played a vital role in preaching the gospels of the great faith Islam. In the meanwhile, they dodged to keep their level with the modern education due to certain vincible hitches. At the threshold of the Islamic education, Muslim youth of Madrasahs are unable to have modern education because of which they become peregrinators. In addition, Madrasah people are following the age old syllabi, whereas they abstain themselves to opt for modern syllabi. Moreover, it’s a right time for the learned Muslims to ferret out the loopholes and pitfalls in the Madrasah education system whereby reformation and rejuvenation could be done. In order to bolster the Muslim youth to go for modern education, Madrasah people have to jettison the prejudices towards modern education and reckon the scientific education with the Islamic education. The assessment and assertion of this study is that Muslims should come forward to juxtapose Islamic education with modern education.
KEY WORD: Madrasah education, modern education, Muslim society, India nation-state, and reform in education.
IKHTISAR: Sudah sejak lama, para pemuda Muslim yang mendapatkan pendidikan Madrasah menjadi lesu di dunia modern. Adalah fenomena yang tak terbantahkan bahwa Madrasah memainkan peran yang sangat penting dalam mengajarkan keyakinan Islam. Sementara itu, mereka mengelak untuk mempertahankan level mereka dengan pendidikan modern dikarenakan rintangan tertentu. Pada awal pendidikan Islam, para pemuda Muslim dari Madrasah ini tidak mampu memiliki pendidikan modern dikarenakan mereka merupakan para musafir. Selain itu, orang-orang dari Madrasah ini mengikuti silabus lama, sementara mereka tidak mau memilih silabus modern. Maka, inilah waktu yang tepat bagi para Muslim yang belajar untuk menemukan jalan keluar dan perangkap dalam sistem pendidikan Madrasah dimana pembaharuan dan peremajaan dapat dilakukan. Untuk mendukung para pemuda Muslim melalui pendidikan modern, orang-orang Madrasah ini harus melepaskan prasangka terhadap pendidikan modern dan menggabungkan pendidikan ilmiah dengan pendidikan Islam. Penilaian dan penegasan dalam studi ini adalah bahwa Muslim harus maju untuk mensejajarkan pendidikan Islam dengan pendidikan modern.
KATA KUNCI: Pendidikan madrasah, pendidikan modern, masyarakat Muslim, negara India, dan pembaharuan dalam pendidikan.
About the Author:
Dr. Hilal Ahmad Wani is a Post Doctoral Fellow at the Centre for Peace and Strategic Studies UOI (University of Ilorin) in Nigeria. For academic purposes, he can be contacted via his e-mail at: wanihilal@gmail.com
Amalan Kecemerlangan Sekolah dalam Kalangan Dua Jenis Sekolah Berprestasi Tinggi di Malaysia
IKHTISAR: Kertas ini bertujuan untuk mengkaji perbezaan amalan kecemerlangan sekolah dalam kalangan dua jenis sekolah berprestasi tinggi di Malaysia, iaitu SBP (Sekolah Berasrama Penuh) dan SMKA (Sekolah Menengah Kebangsaan Agama). Kerangka teori kajian daripada Muhammad Faizal A. Ghani (2008) telah digunakan dalam kajian ini. Kerangka kajian tersebut memiliki 7 dimensi sebagai faktor penyumbang kepada keberkesanan sekolah, iaitu: kepimpinan sekolah yang profesional, persekitaran sekolah yang kondusif, menumpukan pengajaran dan pembelajaran, harapan yang tinggi, penilaian berterusan, permuafakatan antara sekolah dan rumah, serta sekolah sebagai organisasi pembelajaran. Data dikumpulkan menggunakan soal selidik yang diedarkan kepada 180 guru SBP dan 180 guru SMKA. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif seperti peratusan, dan statistik inferensi iaitu ujian Mann-Whitney U. Kajian ini mendapati perbezaan yang ketara wujud antara SBP dengan SMKA dalam mengamalkan amalan kecemerlangan sekolah.
KATA KUNCI: Amalan kecermelangan, sekolah berprestasi, sekolah berasrama penuh, dan sekolah menengah kebangsaan agama di Malaysia.
ABSTRACT: This article analyzes differences in the operation of school excellence practices in two types of the high achievement schools in Malaysia i.e. boarding schools and religious schools. Theoretical framework of Muhammad Faizal A. Ghani (2008) was used in this study. The framework addresses the following 7 dimensions as contributing factors to the effectiveness of the schools, i.e. professional leadership, conducive school environment, concentrate of teaching and learning, high expectations, continuous assessment, collaboration and cooperation between school and home, and the school as a learning organization. The data was collected through questionnaires distributed to 180 boarding school teachers and 180 religious school teachers. The data were analyzed using descriptive statistics such as percentage, and inferential statistics i.e. Mann-Whitney U test. This study found that a significant difference exists between the boarding schools and the religious schools in practicing the following excellence school practices.
KEY WORD: Excellence practices, achievement school, boarding schools, and religious schools in Malaysia.
About the Author:
Muhammad Faizal A. Ghani ialah Pensyarah di Fakulti Pendidikan UM (Universiti Malaya), Kuala Lumpur, Malaysia. Bagi urusan sebarang akademik dan penyelidikan, penulis dapat dihubungi dengan alamat emel: mdfaizal@um.edu.my
Memijah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kedalam Etos Budaya Pembangunan
IKHTISAR: Karya adiguna suatu masyarakat akan membentuk kebudayaan. Di dalam abad ke-21, penguasaan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi harus ditumbuhkan bersama dengan penghayatan terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk membangun kebudayaan yang utuh oleh seluruh anggota masyarakat. Tudingan miring yang tertuju kepada kita bahwa bangsa Indonesia seolah-olah telah kehilangan karakter, jatidiri, kepercayaan, dan gagap dalam menghadapi pertarungan antar bangsa harus ditepis dengan upaya menternakkan daya dorong kemajuan kedalam elan vital bangsa. Secara nyata, masa sekarang dan masa di depan kita terkembang oleh ekonomi beralaskan kekokohan sains dan penerapan teknologi. Dengan kata bersayap, kita harus membangun dan menstrukturkan kehidupan bangsa dan kebangsaan dengan tata harapan dan cita-cita agar mampu mengembangkan dan mengatur diri kita sendiri. Dengan sejujurnya kita perlu mengusung unggulan daya pikir dan kemampuan nalar pengetahuan bagi generasi muda kedalam sendi kehidupan, serta memilah sumber daya pembaharu sambil terus menafikan sikap semata-mata enggan menampung perubahan.
KATA KUNCI: Memijah ilmu, budaya dan karakter bangsa, etos kerja, sains dan teknologi, serta kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
ABSTRACT: A magnum opus of society will create culture. In the twenty first century, the mastery of science and application of technology should be developed together with the social sciences and humanities in order to achieve cultural values relevant to the society. Accusations that have been directed to us that Indonesian namely loosing our cultural identities and characters and harboring incompetency in the struggle of obtaining a better position among nations should be countered by our positive commitments to develop science-based economy. National reform agenda should be powered by the use of modern science and include the application of innovative technology in the sphere of better educational system in which people and younger generations are expected to think more critically.
KEY WORD: Knowledge construction, national culture and character, work ethos, science and technology, national progress and prosperity.
About the Author:
Prof. Dr. Bambang Hidayat adalah mantan Guru Besar ITB (Institut Teknologi Bandung) pakar di bidang Astronomi; dan sekarang sebagai Anggota AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia) di Jakarta. Alamat emel: hidayatbambang@yahoo.com dan bhidayat07@hotmail.com
School Climate and Students Dropouts: A Global Perspective
ABSTRACT: A number of scholars have identified considerable features in describing and conceptualizing school climate, using the characteristics of the school total means of operation. This paper discusses on school climate and students dropouts, focusing on a global perspective. This reviews the conceptual position of students dropouts from the perspective of the developed and developing nations, various school climate factors that lead to students dropouts where outlined, and the features of positive and negative school climate where clarified. Both in the developed and developing nations, it was identified that school climate can force students to dropouts from school and at the same time help a students to be successful. But the school climate of the developing nations is facing challenges of schools facilities to build up a fruitful teaching and learning climate. Some major problems facing schools of the developed nations are not the issues of policy toward school, because the schools have all the facilities required for a good school climate.
KEY WORD: School climate, students’ dropout, developed and developing nations, and global perspective.
IKHTISAR: Beberapa sarjana telah mengenal pasti ciri-ciri yang besar dalam menerangkan dan menkonsepkan iklim sekolah, menggunakan ciri-ciri bagaimana sesebuah sekolah beroperasi. Kertas kerja ini membincangkan tentang iklim sekolah dan keciciran pelajar yang memberi tumpuan kepada perspektif global. Kertas ini mengkaji kedudukan konsep pelajar tercicir dari perspektif negara-negara maju dan membangun, pelbagai faktor iklim sekolah yang membawa kepada keciciran pelajar dikenalpasti, dan ciri-ciri iklim sekolah yang positif dan negatif dijelaskan. Di negara-negara maju dan membangun telah dikenal pasti bahawa iklim sekolah boleh menyebabkan pelajar tercicir dari sekolah dan pada masa yang sama membantu pelajar untuk berjaya. Tetapi iklim sekolah di negara-negara membangun menghadapi cabaran bagi menyediakan kemudahan sekolah untuk membina dan menghasilkan pengajaran dan pembelajaran yang terbaik. Beberapa masalah utama yang dihadapi oleh sekolah-sekolah di negara-negara maju bukanlah berkaitan dengan isu-isu dasar kerana kesemua sekolah di negara maju mempunyai kemudahan yang diperlukan untuk mempamerkan iklim sekolah yang baik.
KATA KUNCI: Iklim sekolah, keciciran pelajar, negara maju dan membangun, serta perspektif global.
About the Author:
Dr. Najeemah Mohd Yusof is a Senior Lecturer at the School of Educational Studies USM (Science University of Malaysia), USM Campus, 11800 Minden, Pulau Pinang, Malaysia. She can be reached at: najineen@usm.my
Menciptakan Daya Magnetisme dalam Pengajaran Bahasa: Penerapan pada Teks Sastera
IKHTISAR: Mengajar subjek Bahasa Melayu dengan bersumberkan bahan sastera memberi impak kepada sebilangan guru di sekolah. Melalui mengajar, seorang guru mengekspresikan keperibadiannya. Salah satu cara untuk merealisasikan integriti guru ialah dengan mempunyai ilmu dalam bidang sastera. Justeru, dalam konteks pedagogi, di samping ilmu pengetahuan, guru harus mencipta kredibiliti sebagai guru yang unggul bagi melunaskan pengajaran yang berkesan di bilik darjah. Maka, guru perlu mencipta daya magnetik sebagai satu langkah untuk menarik perhatian terhadap guru. Oleh itu, guru perlu memiliki “aura” supaya pelajar tertarik dan sanggup memberi tumpuan terhadap pengajaran yang sebenar. Bakat, perwatakan, penampilan, ilmu, keprofesionalan, kejatidirian, dan kebolehan mengurus merupakan indikator yang mampu menarik perhatian pelajar terhadap pengajaran guru berlandaskan teks sastera agar pengajaran bahasa lebih kukuh. Akhir sekali, daya magnetis yang mempunyai elemen kreatif dan inovatif, komunikatif, dan gerak badan perlu dipupuk dari semasa ke semasa.
KATA KUNCI: Bahasa Melayu, pengajaran bahasa, teks sastera, daya magnetik, para pelajar, dan profesionalisme guru.
ABSTRACT: Teaching the Malay language by using the literary materials still give some impact on the number of teachers in schools. By teaching, a teacher actualizes his/her character. One of how to realize the integrity of the teacher is to have knowledge in the literature. Thus, in the context of pedagogy, in addition to knowledge, the teacher should create credibility as a great teacher for effective teaching honor in the classroom. Therefore, teachers need to create a magnetic force as a way to draw attention to the teacher. Accordingly, teachers should have the “aura” so that students are interested and willing to focus on actual teaching. Talent, character, appearance, knowledge, professionalism, identity, and ability to manage self-powerness can be an indicator that can attract students to create teaching based on literary texts and yet that language teaching can be more effective. Finally, magnetic force that has creative and innovative elements, communicative, and body gesture should be developed from time to time.
KEY WORD: Malay language, teaching language, literature text, magnetic force, students, and teacher professionalism.
About the Author:
Dr. Naffi Mat ialah Pensyarah Kanan di Fakulti Bahasa dan Komunikasi UPSI (Universiti Pendidikan Sultan Idris), 35900 Tanjong Malim, Perak Darul Ridzuan, Malaysia. Bagi urusan sebarang akademik, beliau boleh dihubungi dengan alamat emel: napiemat@gmail.com











