Kata Sambutan
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk memanusiakan manusia. Kalimat terakhir itu penting karena pada diri manusia terdapat potensi, baik yang bersifat destruktif maupun positif. Adalah menjadi tugas utama para pendidik untuk meminimalisir sifat destruktif manusia di satu sisi, dan di sisi lain mengembangkan sifat-sifat positifnya. Dalam konteks agama pula bahwa para Nabi Allah itu juga diturunkan ke dunia untuk memperbaiki akhlak manusia sehingga terbangun masyarakat yang beradab, adil, sejahtera, dan dalam ridha Allah SWT (Subhanahu Wa-Ta’ala).
Pendidikan di Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam UUD (Undang-Undang Dasar) 1945, adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Para “the founding fathers” nampaknya sadar betul bahwa hanya individu-individu yang terdidik dan cerdaslah yang akan mampu membangun bangsa menuju kehidupan yang lebih maju, sejahtera, dan merdeka. Sejarah juga sudah membuktikan bahwa bangsa-bangsa yang maju adalah mereka yang memiliki SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, terampil, cerdas, bermoral, dan beradab melalui proses pendidikan yang terencana dan sistematis. Masalahnya sekarang adalah apakah pendidikan di negara kita, Indonesia, sudah benar-benar mengalami kemajuan yang berarti?
Para peneliti dan pakar pendidikan sejarah sering merekomendasikan bahwa bila ingin mengukur “kemajuan” sebuah bangsa tidak cukup mendasarkan diri pada perbandingan dengan masa lalu sejarah bangsa tersebut. Tapi, kata mereka, harus dibandingkan dengan “kemajuan” bangsa-bangsa lain di dunia. Di sinilah, saya kira, pentingnya komparasi pendidikan. Memang, kondisi pendidikan kita sekarang – bila dibandingkan dengan masa lalu – sudah mengalami kemajuan yang luar biasa. Tapi sekali-kali mari kita melakukan refleksi dan introspeksi: bagaimana kemajuan pendidikan bangsa kita bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, baik di kawasan Asia Tenggara maupun di tingkat dunia?
Penerbitan jurnal ATIKAN, yang bermakna “pendidikan”, adalah salah satu usaha untuk terus-menerus melakukan refleksi. Dengan melakukan kajian yang mendalam di bidang pendidikan, baik hasil penelitian maupun pemikiran yang bernas, kita ingin melihat kemajuan bangsa ini dalam perspektif perbandingan dengan kemajuan bangsa-bangsa lainnya. Untuk itulah, sejak awal penerbitannya, jurnal ATIKAN mendeklarasikan diri sebagai “jurnal regional Asia Tenggara” yang hirau dengan masalah-masalah pendidikan. Dengan membaca tulisan-tulisan dari negara lain, kita juga bisa mengukur dan bahkan memprediksi arah kemajuan negara Indonesia di masa sekarang dan di masa yang akan datang.
Sesungguhnya, kearifan lokal budaya Sunda sudah menyatakan bahwa hendaknya jangan merasa hebat menurut diri kita sendiri atau “goong nakol maneh”. Dalam konteks agama Islam pula, kita juga diajarkan untuk terus-menerus bersikap “tawadhu, tasamuh, ikhtiar, dan tawakkal”. Hanya denga sikap itu para peneliti, praktisi, dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan akan secara serius dan sungguh-sungguh untuk memajukan pendidikan di Indonesia dalam konteks, tentu saja, melihat juga kemajuan pendidikan dari bangsa-bangsa lainnya di dunia. Semoga Allah SWT meridhoi usaha kita sekalian. Amin. (Prof. Dr. H. Dwidja Priyatno, S.H., M.H., Sp.N., Rektor UNSUR)
Table of Contents
ATIKAN: Jurnal Kajian Pendidikan,
Volume 2, Nomor 2, Desember 2012
NAJEEMAH MOHD YUSOF,
School Climate and Students Dropouts: A Global Perspective.
BAMBANG HIDAYAT,
Memijah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kedalam Etos Budaya Pembangunan.
MUHAMMAD FAIZAL A. GHANI,
Amalan Kecemerlangan Sekolah dalam Kalangan Dua Jenis Sekolah Berprestasi Tinggi di Malaysia.
HILAL AHMAD WANI,
Madrasah Education in India: A Need for Reformation.
ANDI SUWIRTA & ARLIN ADAM,
Membincang Kembali Masalah Etnisitas, Nasionalitas, dan Integrasi Nasional di Indonesia.
SITI MARYAM,
Menjawab Tantangan Global dengan Mengembangkan Potensi Lokal: Studi Kasus pada Budaya dan Literasi Masyarakat Cianjur.
NORHASNI ZAINAL ABIDDIN,
Application of Q & A Technique in Learning for Students Development.
SITI ANDRIANI,
Pengembangan Bahan Ajar Praktikum Kalkulus Melalui Program Maple untuk Meningkatkan Penalaran dan Representasi Mahasiswa.
ABDUL FATAH & SRI R. ROSDIANTI,
Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik NHT (Number Head Together).
One of the agenda of ASPENSI (Association of Indonesian Scholars of History Education) is to publish the scientific journals. From L to R are: Andi Suwirta, M.Hum., chairperson of ASPENSI in Bandung; Prof. Dr. Mikihiro Moriyama of Nanzan University, Japan; and Dr. Hj. Siti Maryam, editor-in-chief of ATIKAN journal and senior lecturer at UNSUR (University of Cianjur) participated in an international conference at Merdeka Building in Bandung, West Java, Indonesia.
Latest Abstracts/Articles
- Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) Melalui Pembelajaran Kooperatif dengan Teknik NHT (Number Head Together)
- Pengembangan Bahan Ajar Praktikum Kalkulus Melalui Program Maple untuk Meningkatkan Penalaran dan Representasi Mahasiswa
- Application of Q & A Technique in Learning for Students Development
- Menjawab Tantangan Global dengan Mengembangkan Potensi Lokal: Studi Kasus pada Budaya dan Literasi Masyarakat Cianjur
- Membincang Kembali Masalah Etnisitas, Nasionalitas, dan Integrasi Nasional di Indonesia
- Madrasah Education in India: A Need for Reformation
- Amalan Kecemerlangan Sekolah dalam Kalangan Dua Jenis Sekolah Berprestasi Tinggi di Malaysia
- Memijah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi kedalam Etos Budaya Pembangunan
- School Climate and Students Dropouts: A Global Perspective
- Menciptakan Daya Magnetisme dalam Pengajaran Bahasa: Penerapan pada Teks Sastera

